Minggu, 06 Juli 2014

debat capres 2014

Mengulas Balik dan Menganalisis Debat Capres 2014 Putaran Ke-3
Afriyanti
Kelas II A Reguler A


Debat calon presiden putaran ke-3 berlangsung baik. Semua itu didukung oleh partisipasi dari dua  calon presiden , dan moderator  yang baik dalam mengarahkan atau mengemudi jalannya debat . Adapun tema dari debat putaran ke-3 adalah “Politik Internasional dan Ketahanan Nasional”. Tema  yang  diusung ini, ditanggapi cukup baik oleh ke dua calon presiden. Hal tersebut dapat dibuktikan pada saat jalannya debat, karena ke dua calon presiden baik Jokowi maupun Prabowo dapat menjawab semua pertanyaan yang di layangkan oleh saudara moderator.
Moderator  pada debat putaran ke-3 ini dipilih berdasarkan ketentuan yang telah disepakati oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) bersama tim sukses dua pasangan calon presiden (capres) dan  calon wakil presiden (wapres). Dan dari hasil pembahasan beberapa nama  calon moderator yang diusulkan, Komisi Pemilihan Umum (KPU) memilih dan menetapkan Prof. Hikmahanto Juawana, Guru Besar Fakultas Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI), untuk menjadi moderator debat calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (wapres) pada putaran ke-3. Satu diantara alasan  KPU memillih Prof. Hikmahanto Juawana sebagai moderator pada debat putaran ke-3, adalah Prof. Hikmahanto Juawana sudah memenuhi syarat sebagai moderator dan paham betul terkait tema pada putaran debat ke-3, yaitu “Politik Internasional dan Ketahanan Nasional”.
Debat putaran ke-3 dari lima rangkaian yang telah dijadwalkan itu, dilaksanakan pada 22 Juni 2014 bertempat di Hotel Holiday Inn, Jakarta. Rangkaian debat calon presiden (capres) dan  calon wakil presiden (wapres) yang digelar oleh Komisi Pemilihan Umum ditayangkan pada satu diantara stasiun tv swasta yang ada di Indonesia. Debat yang mengusung tema “Politik Internasional dan Ketahanan Nasional” ini dimulai dari pukul 19.30 WIB.
Debat diawali dengan pembukaan dari moderator yang mengingatkan kembali mengenai aturan debat dan format acara debat yang telah ditentukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Adapun aturan dan format acara yang telah ditentukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU)   terbagi menjadi enam bagian.  Bagian pertama, moderator akan   mempersilakan ke dua calon presiden, baik Jokowi maupun Prabowo untuk masing-masing menyampaikan visi dan misi dalam waktu empat menit. Ke dua, moderator akan mempertajam visi dan misi setiap calon presiden dalam waktu 3 menit. Ke tiga, moderator akan memberikan pertanyaan yang sama kepada kandidat calon presiden, untuk dijwab dalam waku maksimal 3 menit. Ke empat, moderator memberikan kesempatan kepada masing-masing calon presiden untuk saling bertanya dalam waktu satu menit dan menjawab pertanyaan dalam waktu dua menit. Ke lima, moderator akan memberikan kesempatan  kepada kedua calon presiden untuk saling bertanya, kemudian menanggapi jawaban. Ke enam, kedua calon presiden diberikan kesempatan kembali untuk bertanya, sekaligus  menanggapi jawaban. Acara berakhir dengan bagian terakhir, yaitu masing-masing calon presiden menyampaikan pernyataan penutup.
Text Box: 1Dilihat dari format acara dan aturan debat yang telah ditentukan oleh  Komisi Pemilihan Umum (KPU) berkenaan dengan tema pada debat putaran ke-3 ini  cukup baik, karena adanya penyampaian visi dan misi dari setiap calon presiden, pertajaman visi dan misi, pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh moderator kepada calon presiden, dan saling lontar pertanyaan antara calon presiden sekaligus menanggapi jawaban, sehingga memunculkan sebuah polemik atau perdebatan, antar calon presiden.  
Text Box: 2Mengenai aturan dan format acara debat yang ditentukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), dapat juga kita ketahui, bahwa terdapat kelemahan dari aturan tersebut. Khususnya waktu yang diberikan atau dibatasi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Waktu yang diberikan dalam penyampaian visi dan misi, masing-masing calon presiden  sangat sedikit yaitu hanya  empat menit. Dalam penyampaian visi dan misi seorang calon presiden, seharusnya waktu yang diberikan lebih dari empat menit, Karena mereka dapat menyampaikan visi dan misi dengan jelas. Karena, dengan visi dan misi seorang calon presidenlah, rakyat dapat menilai kesungguhan seorang calon presiden untuk menjadi presiden sebuah negara.
Debat yang bertemakan “Politik Internasional dan Ketahanan Nasional” ini berlangsung menarik perhatian masyarakat. Banyak yang mengatakan bahwa debat putaran ke-3 ini lebih hidup, daripada debat sebelumnya, walaupun format acaranya sama seperti debat yang sebelumnya. Hal ini juga diperkuat dengan didukungnya kemampuan-kemampuan berkomunikasi dari kedua calon presiden. Baik dari segi kemampuan verbal maupun kemampuan non-verbal. Kemampuan komunikasi verbal adalah bentuk komunikasi berupa kemampuan seseorang dalam berbahasa, mengolah kata-kata dan menyampaikan gagasan. Sedangkan kemampuan non-verbal adalah bentuk komunikasi yang tidak menggunakan bahasa atau secara lisan, melainkan dengan gerak tubuh atau dengan kata lain isyarat gerak dari seseorang yang berbicara.
Kemampuan komunikasi verbal calon presiden yang mengikuti debat putaran ke-3 ini dapat kita lihat dari cara mereka menyampaikan ide-ide, konsep serta gasan-gagasan mereka terhadap masa depan bangsa, khususnya yang berkaitan dengan politik internasional dan ketahanan nasional. Kita contohkan pada saat Prabowo menyampaikan visi dan misinya mengenai politik internasional dan ketahanan nasional negara Indonesia. Beliau mengatakan “kalau kita berbicara politik luar negeri dan ketahanan nasional, mau tidak mau kita berbicara tentang tujun kita bernegara, tujuan bernegara kita adalah tentunya mencari keamanan bersama, tetapi kemudian yang lebih penting adalah kita mencari kemakmuran kita bersama”, pernyataan tersebut dapat dikatakana bahwa dalam menyampaikan gagasan, adanya dasar atau yang mendasari inti dari apa yang akan disampaikan. Beberapa segmen debat juga  diselipkan dengan lelucon-lelucon baik dari pihak Prabowo, maupun pihak Jokowi. Hal tersebut dilakukan agar tidak tegangnya suasana debat.
Tidak jauh berbeda dengan kemampuan verbal. Kedua calon presiden ini juga memiliki kemampuan non-verbal yang cukup baik. Hal itu dapat  dilihat, dari sikap, gaya, gesture, dan cara mereka (capres) menegaskan gagasannya, ketika membuat sebuah pernyataan  maupun menanggapi pertanyaan lawan. Seperti ketika Jokowi mendengarkan pertanyaan dari moderator, ia menganggukkan kepalanya, bermakna mengerti atau paham terhadap pertanyaan yang diberikan, terkadang Jokowi juga mengerakkan satu diantara tangannya untuk memberikan penegasan terhadap apa yang ia sampaikan. Hal tersebut juga dilakukan serupa oleh Prabowo, ketika ia menegaskan sesuatu, ia juga mengerakkan tangan kirinya, dan menggerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan untuk menyatakan “kita semua”.
Kemampuan komunikasi itu sangat penting dalam berkomunikasi, khususnya dalam rangka debat yang berlangsung antar calon presiden. Mereka akan berusaha untuk meyakinkan audien atau pendengar ,agar mendukung apa yang ia katakan. Dalam rangkaian debat putaran ke-3 ini terdapat beberapa fakta unik mengenai kemampuan komunikasi kedua calon presiden ketika berdebat. Jika dikaitkan dengan hukum komunikasi efektif, kedua calon memiliki keunggulan dan kelemahan dalam komunikasi. Hukum  komunikasi efektif atau yang disingkat dengan “reach” adalah bentuk  komunikasi yang dijadikan landasan sikap seseorang dalam berkomunikasi yang  efektif untuk mencapai kesuksesan atau keberhasilan.  Adapun bentuk hukum komunikasi efektif itu terdiri dari; respect (menghargai), emphaty (empati), audible (terdengar), clarity (kejelasan), dan humble (rendah hati).
Text Box: 3Dalam mengembangkan komunikasi efektif, hukum pertama yang dilakukan adalah saling menghargai (respect) terhadap lawan bicara atau seseorang yang diajak berbicara. Sikap ini akan membangun komunikasi yang baik antara pembicara dan lawan bicara. Dan apabila dikaitkan dengan debat yang berlangsung antar calon presiden pada putaran ke-3, masing-masing calon presiden memiliki sikap respect terhadap satu sama lain, misalnya ketika moderator memaparkan pertanyaan kepada Prabowo.Prabowo  berusaha menyimak dan menghargai moderator yang sedang memberikan pemaparan, tanpa menyela atau memotong pembicaraan dari moderator. Begitu juga yang dilakukan oleh Jokowi, ketika beliau diberikan pertanyaan oleh Prabowo. Ia dengan seksama mendengarkan dan memperhatikan Prabowo yang memberikan pertanyaan, tanpa memotong pembicaraan Prabowo, dan berusaha menjawab pertanyaan tersebut. Sikap yang ditunjukan oleh kedua calon presiden itu adalah sikap respect mereka atau cara mereka menghargai lawan bicara.
Sikap empati juga sangat diperlukan dalam berbicara efektif. Karena dalam berbicara, kita dituntut untuk mampu dalam menempatkan diri pada situasi dan kondisi yang dihadapi oleh orang lain atau lawan bicara. Hal itu terbukti dengan pernyataan Prabowo yang memahami pernyataan atau jawaban dari Jokowi, bahwa Jokowi setuju soal pentingnya Indosat sebagai hal yang sangat strategis , yang dijual pada era kepemimpinan Megawati. Kemudian ditanggapi kembali oleh Jokowi yang berbicara tentang alasan penjualan perusahaan tersebut dan menekankan, bahwa kita harus melihat kondisi pada saat era kepimimpinan Megawati dengan kondisi pada zaman sekarang itu berbeda.
Pemaparan yang jelas sangat bergantung pada cara penyampaian pembicara kepada audien atau lawan bicara. Lawan bicara akan mudah mengerti, apabila dalam penyampaian pesan atau gagasan, pembicara memaparkan dengan jelas dan tidak berbelit-belit. Berbicara mengenai kejelasan dalam penyampaian pesan, pada saat berlangsungnya debat calon presiden, Jokowi melontarkaan pertanyaan kepada Prabowo, dan seketika moderator mempersilakan Prabowo untuk menanggapi pertanyaan dari Jokowi, Prabowo meminta klarifikasi atau penjelasan maksud dari pertanyaan Jokowi yang lebih spesifik. Hal tersebut dilakukan agar lurusnya suatu jawaban atas pertanyaan yang diberikan dari Jokowi.
Selain sikap saling menghargai dan empati pada lawan bicara, sikap rendah hati juga merupakan satu diantara hukum komunikasi efektif. Sikap rendah hati sangat berkaitan erat dengan hukum pertama komunikasi efektif, yaitu dalam berkomunikasi harus saling menghargai satu sama lain. Hal ini juga terlihat dalam berlangsungnya debat calon presiden yang diselenggarakan pada 22 juni 2014. Kedua calon presiden tampak memiliki sikap rendah hati satu sama lain, Itu ditunjukan dengan, saling menghargai pendapat masing-masing calon presiden meskipun terdapat perdebatan. Perdebatan juga berjalan dengan sehat, karena kedua calon tidak saling mencaci, memaki atau memaksakan pendapat sendiri. Sikap rendah hati juga sangat tampak pada saat Prabowo menyatakan sependapat dengan apa yang disampaikan Jokowi perihal perlunya sertifikasi untuk para TKI yang dikirim ke luar negeri. Beliau menyatakan ia akan sependapat selama pendapat itu baik. Sikap mengakui kesamaan pendapat inilah bentuk kerendahan hati seorang calon presiden terhadap lawan bicaranya. Tidak hanya Prabowo, Jokowi juga memperlihatkan hal yang serupa. Ia membuat pernyataan tanpa melontarkan kata-kata yang kasar atas respon yang ditanggapi oleh Prabowo, perihal ketegasan Jokowi dalam mengambil tindakan. Jokowi mengatakan “jangan dipikir saya tidak bisa tegas, karena saya tidak ingin disebut tidak tegas”. Pernyataan tersebut dapat kita maknai, bahwa dalam menanggapi seseorang ketika berkomunikasi tidak harus melibatkan emosi dan cara yang dilakukan Jokowi adalah  menjawab dengan kerendahan hati tanpa melontarkan kata-kata kasar, meski sedikit menyinggung dari pihak lawan.
Text Box: 4Kedua calon presiden memiliki kelemahan dan keunggulan masing-masing dalam berbicara. Adapun bentuk kelemahan Prabowo dalam berkomunikasi  saat debat berlangsung adalah, kurang pekanya beliau terhadap maksud yang ingin disampaikan oleh Jokowi perihal terjualnya perusahaan Indosat. Sehingga muncul perselisihan perihal masalah tersebut. Tetapi seiringnya waktu, Prabowo juga memeperlihatkan keunggulan-keunggulannya ketika  menanggapi pertanyaan yang diberikan oleh moderator. Seperti cepat tanggap dalam menjawab pertanyaan dan tegas dalam penyampaian pesan, yang menjadi ciri khas dari seorang Prabowo. Berbeda dengan kelemahan yang ada pada Prabowo, Jokowi juga memiliki kelemahan yang sangat jelas pada saat menyampaikan pernyataan atau menanggapi pertanyaan-pertanyaan, yaitu kurang maksimalnya dalam memanfaatkan waktu yang diberikan dan terbata-bata dalam meyampaikan pesan. Sehingga adanya jeda yang cukup lama, dan itu memperlihatkan Jokowi kurang siap dalam perdebatan. Dan tersirat, bahwa Jokowi seperti mencoba mencari ide untuk menjawab pertanyaan yang diberikan. Meski sedikit terbata-bata, Jokowi mampu menjawab pertanyaan baik dari moderator maupun lawan bicara (Prabowo) dengan santai tetapi serius, dan memberikan kepuasan bagi para pendukung-pendukung Jokowi. Hal itu juga menjadi ciri khas dari seorang Jokowi dalam berkomunikasi.
Text Box: 4Berdasarkan beberapa aspek dalam kemampuan berkomunikasi antar kedua calon presiden, dapat disimpulkan bahwa kedua calon presiden baik Jokowi maupun Prabowo memiliki kemampuan berkomunikasi yang cukup baik dan tidak kalah dengan kemampuan berkomunikasi pembicara-pembicara dunia seperti presiden Amerika Sarikat yaitu Barack Obama. Hal itu terbukti dengan kemampuan kedua calon dalam memberikan pernyatan-pernyatan yang cukup meyakinkan bagi audien  atau penonton. Sehingga audien atau penonton sangat antusias untuk menyaksikan berlangsungnya debat hingga akhir, meski tidak dipungkiri ada pro dan kontra diantara kedua belah pihak.












Rabu, 18 Juni 2014

analisis gaya bahasa anak bajang mengiring angin

Nama               : Afriyanti
Nim                 : F1011131055
Kelas               : II A
Prodi               : Pendidikan Bahasa  dan Sastra Indonesia


analisis gaya bahasa cerita "anak bajang mengiring 


angin"



Pembahasan


A.    Gaya Bahasa
Adapun gaya bahasa yang digunakan dalam cerita “ Anak Bajang Mengiring Angin” karya Sindhunata pada halaman 175 sampai 193, yaitu :
1.      Gaya bahasa yang ada dalam cerita “Anak Bajang Mengiring Angin” karya Sindhunata menggunakan gaya bahasa kiasan, yaitu gaya bahasa persaman atau smile. Gaya bahasa persamaan atau smile adalah gaya bahasa yang digunakan untuk membandingkan sesuatu hal secara eksplisit. Gaya bahasa ini dicirikan dengan penguatan kata-kata, seperti : lakasan, seperti, bagai atau bagaikan, kayak, seolah, dan semacam. Adapun beberapa kalimat dalam cerita “Anak Bajang Mengiring Angin” yang menggunakan gaya bahasa persaman atau smile, adalah:
1)      “laksana terbakar keindahan Negeri Alengka karena matahari tak mau surut dari peredarannya.”
2)      “cahaya permata berlian iu bagaikan terang yang merebut sinar-sinar bintang dan bulan.”
3)      “matanya merah darah bagaikan hati mega yang marah.”
4)      “giginya laksana kilat yang meringgis, memancarkan sinar yang menyilaukan mata.”
5)      “gadanya seperti mau jatuh, meremukkan negeri alengka.”
6)      “mahkotanya yang tersusun tiga tergeleng-geleng, bagaikan istana beraja serigala yang lapar akan kekuasaan dewa.”
7)      “kebijakan adiknya yang tampan ini memang bagaikan rembulan.”
8)      “mengapakah bunga rangin di alenka seperti tuli terhadap angin?”
9)      “amarah arwana sudah membara bagaikan api.”
10)  “ia sudah terlepas dari badannya, yang bagaikan gunung memenjarakan jiwanya.”
11)  ”busananya yang indah gemerlapan menambah kekejaman nafsunya.”


2.      Gaya bahasa ke dua yang digunakan oleh Sindhunata dalam cerita “Anak Bajang Mengiring Angin” adalah gaya bahasa personifikasi atau prosopopoeia. Personifikasi atau prosopopoeia adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan. (keraf, 2009: 140). Beberapa kalimat dalam cerita ini yang menggunakan gaya bahasa personifikasi adalah:
1)      “gapuranya yang keemas-emasan bagai berubah menjadi pintu yang menjilat-jilat dengan api.”
2)      “laksana terbakar keindahan Negeri Alengka karena matahari tak mau surut dari peredarannya.”
3)      “apa artinya kumbang-kumbang yang diam tak mendengung meski ia sudah haus akan madu-madu bunga sirih?”
4)      alam tetap membisu dalam kekeringannya. Tiada angin menembus mega-mega, sampai jatuh hujan-hujannya. Sunyi senyap lambaian pohon-pohon beringin, langit merah merengut kesegarannya. Seribu kembang kenanga layu bercucuran air matanya.”
5)      malam menangis panjang.”
6)      masa lampau bersandar di tebing-tebing jurang kehancuran”
7)      gelombangnya merayap setinggi gunung, lalu menghempaskan wibisana ke tengah samudra.”
8)      ”dengkuran guntur dari bukit penglebur gangsa memecah kesunyian langit.”
9)      “ia sudah terlepas dari badannya, yang bagaikan gunung memenjarakan jiwanya.”
10)  “mata wanita tua itu berkaca-kaca, hatinya membaca duka yang akan tiba.”

3.      Gaya bahasa ke tiga yang digunakan oleh Sindhunata dalam cerita “ Anak Bajang Mengiring Angin” adalah aliterasi. Aliterasi adalah satu diantara gaya bahasa retoris, semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama. Beberapa kalimat yang menggunakan gaya bahasa aliterasi, yaitu:
1)      “ada permata-permata berlian sebesar buah waluh.”
2)      “cahaya permata berlian iu bagaikan terang yang merebut sinar-sinar bintang dan bulan.”
3)      “rambutnya menjadi gelombang-gelombang api.”
4)      “apa artinya kumbang-kumbang yang diam tak mendengung meski ia sudah haus akan madu-madu bunga sirih?”
5)      “hendaklah negeri ini menjadikan gunung-gunung sebagai punggung-punggung kesegerannya.”
6)      malam bermalam, bintang berbintang dan bidadari-bidadari yang mandi dalam kesegaran telaga mawar.”
7)      “masa lampau bersandar di tebing-tebing jurang kehancuran”
8)      “dunia ingin damai dalam tidurmu. Tiada lagi melati di perut-perut bumi. Kereta-kereta sudah bernyala-nyala dengan api perang. Malaikat-malaikat maut mengawal dari langit, membawa perisai dan pedang tajam.”

4.      Gaya bahasa ke empat yang digunakan oleh Sindhunata dalam cerita “Anak Bajang Mengiring Angin” adalah hiperbola. Hiperbola adalah satu diantara gaya bahasa retoris, yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan suatu hal . Beberapa kalimat yang mengandung gaya bahasa hiperbola:
1)      hatinya berkobar menyala akan segera menemukan negeri alengka.”
2)      “maka kera putih ini pun melesat halilintar yang dibidikan dewa indra.”
3)      “ada permata-permata berlian sebesar buah waluh.”
4)      kekeringan melanda seakan laut sudah habis airnya?”
5)      dengkuran guntur dari bukit penglebur gangsa memecah kesunyian langit.”

5.      Gaya bahasa ke lima yang digunakan oleh Sindhunata dalam cerita “Anak Bajang Mengiring Angin” adalah paradoks. Paradoks merupakan gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada.  Adapun kalimat yang termasuk ke dalam gaya bahasa paradoks :
1)      “dulu danaunya bertepian bunga-bunga kemuning,airnya jernih. Sekarang hanyalah rawa-rawa curam yang memberi sedikit kesegaran bagi penghuninya.”
2)      “apa artinya setitik kesedihan bagi hidup yang sudah kaya dengan penderitaan ini.”
3)      “di tengah samudera, ombak tenang bergulung-gulung, menjadi hamparan permadani biru yang mengayun-ngayunkan wibisana, bagai ibu yang membuat anaknya terlena dalam pelukannya.”

6.      Gaya bahasa ke enam yang digunakan dalam cerita ini adalah metafora. Metafora merupakan satu diantara gaya bahasa kiasan yang mengandung arti semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat seperti bunga bangsa, buaya darat, buah hati, dan sebagainya. Adapun kalimat yang terdapat pada cerita ini yang mengandung gaya bahasa metafora adalah: “wibisana, permata hatiku.

7.      Gaya bahasa ke tujuh yang digunakan dalam cerita ini adalah sinisme.sinisme dapat diartikan sebagai suatu sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati (Keraf, 2010: 143) . Adapun kalimat yang mengandung sinisme adalah:
1)       “kau sudah terlalu tua untuk menjadi anak kecil yang merengek-rengek seperti sekarang.”
2)       “sudah terlampau perkasa aku untuk runtuh bersama penyesalanmu.”

B.     Isi Cerita

Adapun isi cerita “Anak Bajang Mengiring Angin” , khususnya pada halaman 175 sampai 193.
Anoman mengucapkan rasa syukur kepada dewa atas petunjuk yang telah dewa berikan kepadanya, yaitu petunjuk untuk menemukan negeri alengka. Anoman menyadari bahwa ia hanyalah seekor kera putih. Seketika ia melihat dirinya di air telaga sumala. Segala halangan dan rintangan di hadapi oleh Anoman si kera putih, itu semua ia lakukan untuk menemukan saudara-saudaranya di negeri alengka. Dan berkat pertolongan dari Gunung Maenaka, penjelmaan wahyu Bayu Gunung, anoman diberitahu tentang pintu masuk menuju negeri alengka, dan anoman pun di lempar oleh Bayu Gunung.
Negeri Alengka kini telah berubah, tidak seperti dulu yang penuh dengan keindahan dan ketenangan. Kini negeri Alengka menjadi negeri yang sangat menyedihkan dan menyeramkan. Semua itu karena ulah rahwana si raja negeri alengka.
Suatu hari Rahwana mengadakan musyawarah bersama pamannya Patih Prahasta, adiknya Wibisana dan semua petinggi-petinggi Alengka. Pada kesempatan itu Rahwana menanyakan, bagaimana cara ia untuk menaklukan hati Dewi Sinta, seorang gadis yang ia rebut dari tangan satria Ramawijaya. Dan Rahwana pun berniat untuk membunuh satria Ayodya, agar ia dapt memperistri Dewi Sinta. Tak lama kemudian adiknya yang bernama Arya Wibisana memberikan nasihat kepada Rahwana. Agar ia mengurungkan niat untuk membunuh Ayodya, karena Wibisana menganggap, apa yang dilakukan oleh Rahwana itu adalah kesalahan. Wibisana pun mencoba menyadarkan Rahwana untuk manjadi raja yang baik, di cintai rakyatnya, dan diagungkan oleh rakyat-rakyatnya.
Wibisana sangat menyayangi saudaranya. Satria yang hanya satu-satunya berwajah manusia ini terus mendesak kakaknya untuk menjadi raja yang baik bagi rakyatnya. Wibisana pun membeberkan segala perihal agar kakanya itu mengubah sikap egoisnya. Dari perubahan-perubahan yang telah terjadi di ngeri alengka, yang dulunya tentram, tenang, sejahtera dan damai kini telah menjadi negeri yang menyeramkan dan menakutkan.
Rahwana adalah raja yang sangat kejam. Tidak ada seorang pun yang dapat menolak perintahnya. Disuatu ketika seseorang yang sangat dibenci Rahwana menuju kerajaan negeri alengka. Ia adalah duta Ramawijaya. Sekerika raja Rahwana memerintahkan para penjaga dan saudara-saudaranya untuk menjaga kerajaan negeri alengka dan membunuh duta Ramawijaya itu.

Nasihat yang diberikan Wibisana hanyalah angin lalu bagi rahwana, ia tidak perduli dengan segala hal yang telah terjadi di negeri alenka itu, yang ia tahu dan inginkan hanyalah Dewi Sinta dan kekuasaan. Rahwana sangat membenci nasihat yang diberikan wibisana kepadanya. Maka ia pun berniat untuk membunuh wibisana. Niat itu pun urung terlaksanakan dikarenakaan pamanya Patih Prahasta menghalangi Rahwana untuk membunuh Wibisana. Dan Wibisana pun diusir oleh Rahwana, seketika Wibisana pun pergi meninggalkan ruangan itu.
Kekecewaan Wibisana terhadap kakaknya menghantarkannya ke tempat kediaman ibunya Dewi Sukesi. Wibisana pun mengadu kepada ibunya terhadap perlakuanRrahwana kepadanya. Dewi Sukesi mengerti dengan segala keluhan anaknya itu. Karena Dewi Sukesi sendiri pun menyesalkan segala perbuatan anaknya, Rahwana terhadap negri Alengka yang kini telah berubah menjadi negeri yang sangat menyedihkan. Dewi Sukesi pun meminta anaknya , Wibisana untuk melawan kekuasaan Rahwana dengan mengabdi kepada ramawijaya musuh Rahwana.
Wibisana adalah anak yang sangat menyayangi ibunya Dewi Sukesi. Nasihat untuk mengabdi kepada Ramawijaya pun ia turuti, demi kemakmuran negeri Alengka. Tetapi langkah Wibisana untuk mengabdi kepada Ramawijaa terhenti seketika, karena Rahwana menghalanginya dan mengetahui bahwa Wibisana akan menghianati negerinya. Wibisana pun dibunuh oleh Rahwana. Dewi sukesi pun menyesali perbuatan anaknya Rahwana yang tega membunuh adiknya sendiri. Wibisana pun mati semua keinginan ibunya utnuk menghentikan perbuatan Rahwana pun terhenti. Rahwana pun memerintahkan saudaranya yang bernama Wilkataksini untuk membuang mayat Wibisana ke laut.








Sabtu, 07 Juni 2014

kembangku
















Kembangku




Kembangku….
Kau terbaring di bumi
Di antara reretakan batu-batu yang menyatu
Kau lemah
Tergolek  tak berdaya
Ketika angin
berlomba membuatmu terhempas
ketika hujan bertubi-tubi menancapkan luka
ketika awan terbahak-bahak
mentertawakanmu..


kembangku..
kau coba pancarkan aura sucimu
nan putih lagi semerbak bidadari
kau coba toreskan tinta keberanian
dalam kesendirian
dan kau nikmati
di keheningan malam tanpa bintang-bintang

kembangku.
Pernah terijak
Oleh kaki-kaki bertaji dewa menteri
Tertimpa serpihan-serpihan pasir
Hingga tertutup, tertanam, bahkan memakam

Kembangku sayang..
bukanlah sembarang kembang
Ia sudah seratus kali jatuh
Bahkan seribu…..

Menangislah kembangku…
Jika hatimu bisa luluhkan hati
Lelehkan Batu karang yang terpendam
Hingga lautan itu terasa asin
Meruah oleh air keikhlasan dan ketidakberdayaan

Kembangku..
Biarkan mereka tertawa terbahak-bahak
Biarkan…mereka hulu-lalang Mengabaikanmu

Tegarkan kembali kelopak-kelopakmu
Kembangku sayang..
Pancarkan kembali semangat cinta kasih
Beraroma rindu pada ilahi
Jalani arus kehidupan yang penuh misteri ini
Dan percaya
Kan ada singgasana untukmu
Yang nantinya memang hanya untukmu

By. afriyanti